Memaknai Pendidikan Dasar Pecinta Alam
DIKSAR PECINTA ALAM, sebuah kata yang tak asing didengar.Sebuah prosesi yang harus dijalani bagi calon penerus baru
organisasi penggiat alam. Suatu ritual yang seakan menjadi momok menakutkan
bagi mereka. Penuh tekanan, penuh persiapan, penuh finansial, sarat akan
kekerasan, dan terkadang tak sedikit jatuh korban. Saya akan telaah sejenak,
apakah benar demikian? Apa yang mendasari itu semua? dan, Ada apa dibalik
proses pendidikan yang selama ini tetap dipertahankan?
Suatu ketika saya mendengar berita musibah
pada suatu pendakian gunung, banyak diantara mereka yang menjadi korban dan
meninggal. Saya mencoba mencari tahu lebih banyak berita sejenis, pada siapa
dan mengapa kecelakaan ini terjadi?.
Begitulah kejadian yang nyata didepan kita,
apakah kita menutup mata jika nyawa seakan sudah tak ada harganya. Siapa yang
peduli? Siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang menelan pahit tercorengnya
citra sebuah organisasi, lembaga, bahkan Negara karena tak bisa memfasilitasi
rakyatnya untuk sekedar menikmati alam?
Apa kaitannya dengan pendidikan dasar
pecinta alam?
Contoh kecelakaan bisa terjadi pada siapa
saja. Orang yang professional sekalipun punya resiko yang sama ketika ia
menempatkan dirinya di alam bebas. Kita tidak bisa memungkiri adanya kehendak
Tuhan, namun yang bisa kita lakukan adalah mengurangi resiko kemungkinan
terjadinya kecelakaan tersebut dari sisi manusia nya sendiri (human error).
Menjadi sorotan utama apa saja yang kita butuhkan, bukan hanya sekedar fisik
dan ilmu. Memang keduanya begitu sangat penting, namun bukan yang terpenting
apabila keduanya berdiri sendiri-sendiri. Banyak hal yang terjadi selama
dilapangan, kombinasi dari beberapa elemen yang kita miliki bisa menjadi solusi
yang lebih baik.
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa diksar
tidak hanya mempersiapkan skill dalam berkegiatan di Alam, namun juga sebagai
tonggak awal berkembangnya mental dan insting mereka. Akhirnya dari kombinasi
itu mereka lebih percaya diri, lebih mampu mengukur kemampuannya, dan peka
terhadap sekelilingnya. Selalu mempertimbangkan akal sehat dan bukan sekedar
menuruti hawa nafsu. Bisa saya katakan bahwa, lebih banyak kecelakaan terjadi
(tersesat, hilang, dsb) bukan karena lemah fisiknya, namun karena kurang rasa
percaya diri, dan hilangnya fungsi seorang pemimpin. Kondisi demikian berlanjut
pada kacaunya komunikasi antar anggota, ketidak percayaan pada pemimpin, rasa
takut yang hebat, hingga hilangnya semangat untuk mempertahankan hidup. Disini
diksar memiliki peranan yang amat penting sebelum seseorang melangkahkan
kakinya di Alam bebas.
Apakah diksar adalah pilihan
satunya-satunya? Bagaimana dengan seseorang yang memiliki pengalaman dan jam
terbang yang tinggi haruskah juga melewati prosesi ini?
Saya sangat setuju bahwa pengalaman adalah
guru yang terbaik, pengalaman dapat lebih menunjukkan identitas dan karakter
kita. Apalagi seseorang yang memiliki jam terbang yang tinggi, secara tidak
langsung ia telah mendorong dirinya untuk cepat berkembang. Tidak heran bahwa
nantinya akan tumbuh daya juang yang tinggi dan respon tubuh yang baik saat
kondisi yang tidak diinginkan. Diksar adalah lompatan awal yang akan di
follow-up lagi dengan banyaknya jam terbang. Namun tidak mutlak harus dilalui
jika ia mampu melompatinya dengan baik dan sama berat porsinya.
Banyak teman saya yang tidak memiliki
background PA atau belum pernah melalui prosesi diksar, namun bisa lebih
mengkondisikan dirinya dalam berbagai situasi, menghasilkan solusi yang
brilliant, dan bisa diandalkan. Dan banyak juga teman saya yang memiliki
background PA hanya sebatas kebanggaan akan lencana yang ia pakai, namun tidak
bisa menolong dirinya dan bahkan menjadi benalu bagi yang lain. Diksar adalah
pintu pertama dalam sebuah kurikulum namun outputnya tergantung dari isi dan
orangnya masing-masing. Namun jika kita tidak tahu apa-apa, mengikuti seluruh
kurikulum dengan baik adalah jalan yang lebih aman.
Berikut saya coba uraikan beberapa point
yang ada dalam diksar pecinta alam:
- Pembentukan mental dan karakter yang kokoh
- Pembentukan sikap rendah diri dan peduli lingkungan
- Pembentukan kapasitas ilmu dalam berkegiatan di alam
- Pembentukan kesadaran akan rasa kesamaan, kebersamaan, dan kekeluargaan
- Membentuk pribadi yang bijak dan beradab

Komentar
Posting Komentar